Siang itu, matahari kembali menyegat tubuhku. Aku berlari dari kejaran mobil, yg terus mendekati laju motorku. Semakin kupercepat, dan akhirnya sampai juga di tempat kerjaku. “Sudah pulang, Mas, biar saya saja yang buka”, sapa Bibi dari belakang pagar.
“Makasih Bi !”, jawabku. Segera kuparkir motor kesayanganku itu. Kuambil secarik kertas dari dalam tasku, lalu kuserahkan pada Dian, Customers serviceku. “Ini mba, ada beberapa yg harus dibeli.” Seraya kuserahkan job report yg kupegang.
Kembali kuberjalan mengambil segelas air untuk menyegarkan tenggorokan. Kubuka laptop dan mulai kumainkan tombol-tombol di dalamnya. Teringatku pada tugas yg diberikan Pak Thomas 1 minggu lalu.
“Ayo pulang, ngga kuliah ya?” sapa Pak Dimas. Kulihat jam sudah menunjuk angka 5. Tak terasa waktu begitu cepat. Akupun tersenyum dan mulai berkemas. Kutinggalakan kantor, dan bergegas menuju kampusku yg ada di pusat kota. Kupacu laju motorku secepat mungkin agar bisa on time hari ini. Sudah hal kebiasaanku menjadi mahasiswa yg suka telat di jam pertama. Resiko pekerjaan pikirku.
Begitu adanya, kerja dan kuliah tiap hari membuatku lebih tau bahwa hidup memang butuh perjuangan. Kadang terpikir untuk berpacaran seperti umumnya seorang mahasiswa. Tapi sudahlah, takkan ada waktu untukku.
“Assalamu ‘alaikum !” sapaku memasuki rumah. Di sambut senyum dari bapak dan ibuku. Akupun segera menuju kamar, mengganti pakaian yg sudahku pakai seharian.
Aku terdiam sejenak, sebelum kusantap makan malamku. Aku lupa kalo ada sms yg belum aku balas. Aku beranjak mengambil HP yg baru kubeli minggu lalu. Kutulis sms singkat lalu kembali ke meja untuk menghabiskan makananku. Terasa lelah dan kubaringkan tubuh ini. Aku ingin hari berganti lebih cepat adanya hingga weekend datang. Aku terlelap dalam tidurku berharap esok akan datang.
“Pak aku duluan ya, ada janji nih, skalian mo lihat dies di kampus.”ucapku. “Hati-hati, jangan ngebut!” pesan Pak Sani. Hari ini mungkin akan jadi hari yg indah. Ada janji bertemu cewek yg baru aku knal. Kuajak ia untuk melihat-lihat kampusku, sembari menonton anak-anak band yg mengalunkan musik.
“Ting tong”. Kukeluarkan Hpku dan kubaca 1 sms yg masuk sore itu. ‘Aku sudah sampai nih, kamu dimana?’ Kubalas smsku, lalu aku menuju parkiran untuk menjemputnya.
“Tiwi ya, maap lama nunggu.” Sapaku padanya. “Iya ga pa pa kok, aku juga baru dateng, oh ya katanya ada pensi, dimana?” tanyanya lembut. “Ayo ikut aku”. Kuajak ia berkeliling, sambil mengobrol. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Namun terasa begitu dekat seperti layaknya teman yg sudah lama tak bertemu.
Sore itu telah jadi malam yg membuat aku ingin mengulanginya. Ntah mengapa, sejak perkenalan itu, aku ingin lebih mengenalnya. Seorang gadis kecil yg baru beranjak dewasa dalam penantian menuju kelulusan dari bangku SMU. Mulai kuberanikan diri untuk menyapanya melalui tulisan dari Hpku. Dan aku membuat janji untuk bertemu lagi esok. Ia ingin aku berkenalan dengan sahabatnya. Sebuah hubungan sederhana, dan dia menganggapku sebagai seorang kakak.
Ia terlambat datang. Masih kudengar suaranya dari gedung berlantai 9 itu. Aku menghabiskan sepiring mie yg sudah kupesan. Sambil menunggunya, aku bercerita tentang hubunganku dengan Ika pada Amir, sahabatku. “Mir, aku tak pernah berharap, kamu menginginkan aku tuk jadian dengannya. Aku masih mengingat kata-katamu waktu itu. Aku hanya mengangapnya seorang teman. Lagipula kamu tahu kan, dia lebih tua dari aku. Aku ingin sendiri. Kerja sambil kuliah, udah membuatku pusing, apalagi jika ada cewek di sampingku. Aku tak bisa bayangkan itu.” Kataku untuk membuka pembicaraan. Dia hanya mengangguk, tangannya yg memegang sendok, diturunkannya kembali. “Iya, aku tahu, aku hanya mengira kamu mendekatinya. Sepertinya dia juga menyukaimu.”
Tak terasa kita mengobrol cukup lama, sampai akhirnya aku melihat bayangan gadis yg aku knal. Dia telah pergi, mungkin tak melihatku. Aku ingin memanggilnya, tapi sudahlah, tampaknya ia masih sibuk dengan kegiatannya itu. Aku pun bergegas pulang. Sedikit kekecewaan padaku pada janji itu. Harusnya aku tak membuat janji hari ini, sesalku.
Aku kembali menjalani kehidupanku. Bulan depan sudah ujian akhir, dan aku belum menyiapkannya. Kurapikan tas kerjaku dan segera menuju kantor yg tak cukup jauh dari rumahku. “Eh, senyum-senyum aja ni, lagi hepy ya.” Sambut Pak Pur, security di tempatku. “He..he, iya, ga tau nih jadi hepy banget. Yg laen blum dateng Pak?” tanyaku. “Mba Dian tuh di depan, yg laennya blum dateng, mungkin sebentar lagi.”
Kubaca koran yg tergeletak di kursi, sudah jadi kebiasaanku untuk membacanya.
“Pagi Pak !” sapaku pada Pak Dimas yg baru datang. “Ada jadwal kemana hari ini?” tanyanya. “Belum tahu Pak, pengennya sih stand by aja.”
Aku mengambil Hp yg ada di kantong, kubuka satu aplikasi. Kulihat dia online pagi ini. Kusapa dia, sambil mengakrabkan hubungan kami. Masih biasa seperti layaknya seorang teman. Belum ada pikiran untuk menjadikannya seorang yg spesial.
Hampir tiap hari kubuka aplikasi itu. Saat jam-jam kosong di kantor, kampus, maupun di rumah. Aku belum bisa melupakan Putri, ataupun Tiara, yg pernah singgah di hariku. Keduanya, sosok yg ingin aku jaga, meski, takkan ada lagi perasaan itu padanya.
Lelah sekali hari ini, kubaringkan tubuhku di kamar, kuambil handphone, dan aku mulai membuka aplikasi itu. Tampaknya dia online hari ini. Sejak pertemuan itu, hubungan kita makin dekat, ditambah keinginanku yg menjadikannya seorang adik. Orang yg tak pernah aku dapatkan dari orang tuaku. Iya, aku terlahir seorang diri, sebagai anak tunggal.
Malam itu kusampaikan padanya, kalo aku ingin mengenalnya lebih jauh. Bukan sebagai seorang adik tentunya. Lewat untaian kata, Dia pun setuju. Tampaknya ia juga merasa nyaman dengan hubungan ini.
Hari terus berganti, dan hubungan ini terasa makin spesial untukku. Aku merasa nyaman padanya. Namun, tak kutahu bagaimana ia padaku. Aku mengenalnya minggu lalu, dan hari ini, kita telah jadi sebuah pasangan yg takkan terpikir oleh kami sebelumnya. Puluhan sms, kata-kata, telah menjadi bagian dari kami. Pertemuan yg terjadi tiap minggu terasa begitu istimewa untukku. Tapi mungkin tidak untuknya. Ada sebuah raut yg berbeda setelah beberapa kali bertemu. “Ada apa sih, kok aneh gitu, kamu ga pa pa kan !” tanyaku. “Iya, ga pa pa, kita mau kemana kak? Aku Cuma punya waktu ampe jam1, ada janji ma temen les.” jawabnya sambil berjalan ke tempat kita pertaman ketemu. “Kamu temenin aku ya, ada kegiatan di lab, bis itu, kita jalan, kayak biasanya.” Dia pun mengangguk, dan kita mulai berjalan menuju kampusku yg sepi pagi itu.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga akhir nya kami berpisah saat jam menunjuk waktu setengah dua. Akupun pulang, masih lelah rasanya, setelah bekerja kemarin. Aku pun berbaring, tidur.
Tak terasa malam sudah menjelang. Aku teringat untuk datang ke sekolahku dulu. Anak-anak berkumpul di sana. Reunian malam ini. Bodohnya aku, untuk lupa memberitahunya.
Aku lupa jika sekarang ada satu teman spesaialku. Meski aku tak bisa mengajaknya untuk keluar malam. Tak apalah. Yg penting hatiku ada untuknya. Aku akan menjaganya sampai saat yg bisa. Kamipun berbincang banyak hal malam itu. Sudah hampir 1 tahun tak bertemu setalh kita lulus 2 tahun yg lalu. Sekolah yg membawa kenangan buruk tetapi juga terindah untukku.
Aku teringat padanya dan segera aku ketikkan kata untuknya. Tak terkirim. Mungkin jaringan sibuk malam ini. Malam minggu, waktu dimana muda-mudi berkumpul untuk memadu kasih. Sudah hampir setengah jam, dan belum terkirim juga. Aku tak bisa berpikir banyak waktu itu. Segera kuambil Hpku yg satu lagi. Kutuliskan kata dan aku kirim padanya. Sama. Tak terkirim juga. Aku pun mulai membiarkan sms itu, dan mulai menyantap makanan yg sudah di pesan temanku. Tak ada hentinya tawa, dan melihat sekeliling. Rame sekali warung Mas Boy waktu itu. Terlihat pasangan yg masuk ke dalam warung tenda itu. Andai aku bisa mengajaknya. Pasti malam ini akan lebih indah, gumamku. Sepuluh lewat lima belas, kami bergegas pulang. Namun, tampaknya pertemuan itu belum cukup memuaskan kami. Sambil duduk-duduk di depan gedung Bank, kami pun mulai mengobrol lagi. Satu teman, pulang, Lelah katanya. Masih kutahan rasa kantukku karena aku masih kangen pada mereka.
23.00. Waktu yg membuat aku terus mengingat gadis itu. Gadis yg telah membuatku mengerti bahwa hidup lebih indah dengan cinta. Banyak komentar dari teman yg menuduhku tidak konsisten. Aku memang ngga berencana untuk punya pacar lagi. Putri telah membuatku benar-benar sakit karena kebohongan yg telah dilakukannya.
Dia berbeda, tak seperti orang2 yg pernah aku knal sebelumnya. Orang yang mengingatkanku akan satu hal yg prinsipil menurutku. Iman.
Satu pilihan yg membuat aku memilihnya. Aku bisa saja memilih Ika, atau yg laen. Tapi mereka tidak memiliki itu.
Pagi itu, aku terbangun. Segera kuucapkan sms padanya. Tampaknya ia belum bangun, karna sms itu tak kunjung dibalasnya. Aku menunggunya, berharap aku bisa bercerita tentang malam itu. Aku benar-benar tak mengerti. Hari itu terasa penat untukku. Hubungan kami berakhir dan Mengapa harus Tiwi yg jadi orang itu. Aku tak bisa menahan pikiranku. Sesalku, karna kemarin terkahir kali aku bertemu dengannya. Semua terasa dingin, tak seperti biasanya.Mungkin karna kesombonganku. Aku tak bisa. Aku menjaga perasaan itu, tapi aku kembali jatuh. Jatuh pada jurang yg sama. Kalau saja bukan dia. Mungkin takkan seperti ini. Ia membuatku sadar akan Iman. Aku rapuh. Aku tak bisa banyak berkata. Hanya diam memandang fotonya yg kusimpan kemarin.
Aku lelah. Mungkin ini adalah jalanku. Aku tak bisa lagi melihat senyumnya. Senyum seorang gadis yg sudah lama tak kulihat. Aku bahagia dengannya. Meski sekarang aku tahu, dia tak pernah bahagia denganku. Apakah ini cinta, aku tak tahu. Semua terasa begitu cepat. Hanya dia yg tahu jawaban dari semua ini.
“Dek, bangun, katanya mau puasa, ayo bangun?” kata ibuku. Aku terbangun dari tidur panjangku. Kubuka mata, dan kulihat jam di HP ku. 3.20. Aku bangun. Kubuka lagi Hpku, untuk melihat fotonya. Sudah tak ada. Kucari-cari di semua folder dalam HP ku tapi tak kutemukan itu. Aku baru teringat. Kemarin aku lelah sekali, dan langsung tertidur. Aku baru sadar bahwa Tiwi adalah malaikat yg telah mengingatkan ku. Kerapuhan yg ada pada diriku, takkan ada lagi. Aku Cuma bisa tersenyum. Ya Allah, terima kasih, Engkau telah membimbingKu. Kini akau akan bersamaMu. Meski bukan dengannya. Mengapa harus Tiwi? Karna ia yg telah membuatku sadar akan pentingnya hidupku. Terimakasih ya Allah, meski Tiwi Cuma mimpi dalam malam ini. Tapi ia terasa nyata untukku.
Pagi ini aku kembali berangkat menuju tempat kerjaku. Kulayangkan salam bahagia. “Thanks Tiwi. Moga mimpi itu bisa jadi kenyataan untukku.”
Nama dan peristiwa hanyalah rekaan semata. Hanya bunga tidur dalam melepas lelah
WasSalam