Archive for Curhatan

Kembali ke Akhir Tahun..(coretan terakhir)

Hmph…tak terasa sudah, satu tahun kembalikita lewati, banyak kenangan entah itu yang baik atau yang buruk. Semuanya begitu berarti untuk kita. Semua orang menulis, semua orang mengingat kembali apa yang telah dilakukannya selama setahun ini. satu hari takkan terlewatkan begitu saja, karena sebentar lagi, semua orang akan berkumpul untuk menyaksikan pergantian tahun.

Sebelum

Masih ingatkah kita, akan rencana kita sebelum tahun lalu berakhir dan datang tahun ini? Ingatkah kita akan semua penyesalan yang terjadi tahun lalu dan berjanji akan memperbaikinya tahun ini? Semua telah berlalu, dan hasilnya, semuanya seperti akhir tahun lalu. Kita kembali pada masa itu lagi.

Lupakan, saat kita merasa sudah lebih baik dari tahun lalu.

Mereka yang berkata, ‘Saya Berhasil’, ‘ Saya gagal’, ‘Saya bangkrut’ atau saya-saya yang lain. Semuanya telah berkakhir. Kenangan2 indah, suram, sedih, bahagia, telah kita lewati bersama, dan kita akan menuju ke awal tahun, seperti tahun lalu. Kita melalui waktu yang sama di tahun yang berbeda. Sadarkah kita, bahwa ini adalah kebodohan yang sama dengan kita setahun yg lalu.

Apa yang bisa kita lakukan adalah mengingat semua yang pernah terjadi di tahun ini. Entah itu yang baik atau yang buruk. Ingatlah semua hal buruk yg pernah kita lupakan, Dan lupakan yang baik. Sadar atau tidak, apa yg telah kita lakukan adalah hal-hal terbaik yg telah kita pilih. Kita telah melalui begitu banyak pertimbangan sebelum akhirnya kita memutuskan untuk melakukan hal tersebut.

‘Dan inilah saya’

Semua kegagalan adalah tanggung jawab kita, dan semua keberhasilan adalah kerja keras orang yg bekerja bersama kita. Bila tahun ini kita gagal, maka pahamilah itu adalah kebodohan bagi kita, hingga kita berusaha untuk memperbaikinya kelak. Saat keberhasilan itu datang, maka pahami itu sebagai kerja keras orang di sekitar kita hingga kita enggan untuk sombong. Jatuh adalah hal yang kita hindari, tapi kita tidak akan bisa bangun sebelum jatuh.

Sesudah

Pastilah itu adalah masa depan. Banyak orang yang selalu berharap untuk lebih baik, namun ia malah mengulangi kesalahan yang sama. Inikah kebodohan atau musibah?? Masa depan adalah sebuah takdir yang sudah direncanakan, tetapi kita tidak pernah tahu seperti apa masa depan itu, sebelum kita menjalaninya.

Apakah akan berakhir sama atau berbeda? Apakah akan berakhir bahagia atau duka ?

Setiap orang takut untuk mencoba suatu hal yg mungkin akan membuatnya berhasil. Suatu kegagalan dan juga kebodohan bagi dirinya. Setiap orang selalu melakukan hal yang sama, agar ia tidak terjatuh dalam sebuah lubang. Entah nantinya akan ada lubang atau tidak dihadapannya. Tak ada yang berbeda dan selalu seperti itu. Monoton
Apa yang kita pilih, sudah pasti itu adalah hal yang terbaik buat kita. Terlepas itu nantinya akan membawa suatu keburukan atau kebaikan. Keyakinan kita bahwa semuanya adalah sebuah jalan yang akan menentukan arah kemana hidup kita.

Berusaha dan berusaha.. Setiap waktu serta dimana saja..

Masa depan bukan sebuah akhir, tetapi adalah satu tahapan awal bagi seseorang. Itulah yang dikatakan setiap orang kepada kita. Bagaimana langkah kita ke depan, kitalah yg berhak menentukannya, Bukan saya, dia, atau mereka di luar sana.

Kembali ke akhir tahun.. (coretan terakhir)

Ini bukanlah tulisan terakhir saya. kembali ke akhir tahun… merupakan satu ungkapan dimana kita akan selalu mengulang satu waktu yg sama. Setiap berada di akhir tahun, harapan-harapan yg sama serta penyesalan-penyesalan yg sama. Begitu saja, dan berulang setiap tahunnya. Akhir ataupun awal tahun bukanlah satu moment yg spesial untuk kita. Sebagai pengingat bagi kita, bahwa semakin lama, kita akan semakin bertambah. Baik usia, fisik, kedewasaan, materi, ataupun hal lainnya. Kita aka. n mengalami masa yg sama setiap tahunnya. Dan, ini pilihan kita apakah akan melakukan hal yg sama atau melakukan perbedaan sebelum memasuki akhir tahun berikutnya.

Di akhir tulisan ini, saya menyampaikan maaf apabila dalam artikel yang telah saya tulis terdapat banyak kesalahan. Kritik, saran, serta koreksi dari pembaca, sangat berarti untuk saya. Sehingga nantinya saya bisa menjadi penulis yang lebih baik lagi. Untuk coretan terakhir di dalam tulisan ini. Saya ucapkan

‘Selamat Tahun Baru 2009. Semoga di tahun 2009 nantinya. kita menjadi seorang yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita.’ Amin

Wassalam

 

Leave a comment »

PC PLUS- edisi 310

Wuah, suatu kebanggaan buat saya, ternyata ada artkel di blog ini yg masuk ke majalah, Ya, ya, beberapa minggu lalu ada yg memberi tawaran untuk memasukkan artikel berjudul “Komputer Mati Ada Apa Dengannya” ke dalam tabloid PC PLus. Alhamdulilah sekarang majalah tersebut sudah diterbitkan dan artikelnya dicantumkan di dalamnya.

Buat mba Keshie Hernitaningtyas saya ucapkan terima kasih atas kesediaanya memasukkan artikel dengan judul “Komputer Mati Ada Apa Dengannya” ke dalam tabloid PC Plus.

Untuk para pengunjung, saya ucapkan terima kasih atas kesediaanya membaca artikel2 dalam blog saya ini.

Akhir kata semoga bermanfaat bagi semua pihak

Wassalam

Leave a comment »

Mengapa harus Tiwi?

Siang itu, matahari kembali menyegat tubuhku. Aku berlari dari kejaran mobil, yg terus mendekati laju motorku. Semakin kupercepat, dan akhirnya sampai juga di tempat kerjaku. “Sudah pulang, Mas, biar saya saja yang buka”, sapa Bibi dari belakang pagar.

“Makasih Bi !”, jawabku. Segera kuparkir motor kesayanganku itu. Kuambil secarik kertas dari dalam tasku, lalu kuserahkan pada Dian, Customers serviceku. “Ini mba, ada beberapa yg harus dibeli.” Seraya kuserahkan job report yg kupegang.

Kembali kuberjalan mengambil segelas air untuk menyegarkan tenggorokan. Kubuka laptop dan mulai kumainkan tombol-tombol di dalamnya. Teringatku pada tugas yg diberikan Pak Thomas 1 minggu lalu.

“Ayo pulang, ngga kuliah ya?” sapa Pak Dimas. Kulihat jam sudah menunjuk angka 5. Tak terasa waktu begitu cepat. Akupun tersenyum dan mulai berkemas. Kutinggalakan kantor, dan bergegas menuju kampusku yg ada di pusat kota. Kupacu laju motorku secepat mungkin agar bisa on time hari ini. Sudah hal kebiasaanku menjadi mahasiswa yg suka telat di jam pertama. Resiko pekerjaan pikirku.

Begitu adanya, kerja dan kuliah tiap hari membuatku lebih tau bahwa hidup memang butuh perjuangan. Kadang terpikir untuk berpacaran seperti umumnya seorang mahasiswa. Tapi sudahlah, takkan ada waktu untukku.

“Assalamu ‘alaikum !” sapaku memasuki rumah. Di sambut senyum dari bapak dan ibuku. Akupun segera menuju kamar, mengganti pakaian yg sudahku pakai seharian.

Aku terdiam sejenak, sebelum kusantap makan malamku. Aku lupa kalo ada sms yg belum aku balas. Aku beranjak mengambil HP yg baru kubeli minggu lalu. Kutulis sms singkat lalu kembali ke meja untuk menghabiskan makananku. Terasa lelah dan kubaringkan tubuh ini. Aku ingin hari berganti lebih cepat adanya hingga weekend datang. Aku terlelap dalam tidurku berharap esok akan datang.

“Pak aku duluan ya, ada janji nih, skalian mo lihat dies di kampus.”ucapku. “Hati-hati, jangan ngebut!” pesan Pak Sani. Hari ini mungkin akan jadi hari yg indah. Ada janji bertemu cewek yg baru aku knal. Kuajak ia untuk melihat-lihat kampusku, sembari menonton anak-anak band yg mengalunkan musik.

“Ting tong”. Kukeluarkan Hpku dan kubaca 1 sms yg masuk sore itu. ‘Aku sudah sampai nih, kamu dimana?’ Kubalas smsku, lalu aku menuju parkiran untuk menjemputnya.

“Tiwi ya, maap lama nunggu.” Sapaku padanya. “Iya ga pa pa kok, aku juga baru dateng, oh ya katanya ada pensi, dimana?” tanyanya lembut. “Ayo ikut aku”. Kuajak ia berkeliling, sambil mengobrol. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Namun terasa begitu dekat seperti layaknya teman yg sudah lama tak bertemu.

Sore itu telah jadi malam yg membuat aku ingin mengulanginya. Ntah mengapa, sejak perkenalan itu, aku ingin lebih mengenalnya. Seorang gadis kecil yg baru beranjak dewasa dalam penantian menuju kelulusan dari bangku SMU. Mulai kuberanikan diri untuk menyapanya melalui tulisan dari Hpku. Dan aku membuat janji untuk bertemu lagi esok. Ia ingin aku berkenalan dengan sahabatnya. Sebuah hubungan sederhana, dan dia menganggapku sebagai seorang kakak.

Ia terlambat datang. Masih kudengar suaranya dari gedung berlantai 9 itu. Aku menghabiskan sepiring mie yg sudah kupesan. Sambil menunggunya, aku bercerita tentang hubunganku dengan Ika pada Amir, sahabatku. “Mir, aku tak pernah berharap, kamu menginginkan aku tuk jadian dengannya. Aku masih mengingat kata-katamu waktu itu. Aku hanya mengangapnya seorang teman. Lagipula kamu tahu kan, dia lebih tua dari aku. Aku ingin sendiri. Kerja sambil kuliah, udah membuatku pusing, apalagi jika ada cewek di sampingku. Aku tak bisa bayangkan itu.” Kataku untuk membuka pembicaraan. Dia hanya mengangguk, tangannya yg memegang sendok, diturunkannya kembali. “Iya, aku tahu, aku hanya mengira kamu mendekatinya. Sepertinya dia juga menyukaimu.”

Tak terasa kita mengobrol cukup lama, sampai akhirnya aku melihat bayangan gadis yg aku knal. Dia telah pergi, mungkin tak melihatku. Aku ingin memanggilnya, tapi sudahlah, tampaknya ia masih sibuk dengan kegiatannya itu. Aku pun bergegas pulang. Sedikit kekecewaan padaku pada janji itu. Harusnya aku tak membuat janji hari ini, sesalku.

Aku kembali menjalani kehidupanku. Bulan depan sudah ujian akhir, dan aku belum menyiapkannya. Kurapikan tas kerjaku dan segera menuju kantor yg tak cukup jauh dari rumahku. “Eh, senyum-senyum aja ni, lagi hepy ya.” Sambut Pak Pur, security di tempatku. “He..he, iya, ga tau nih jadi hepy banget. Yg laen blum dateng Pak?” tanyaku. “Mba Dian tuh di depan, yg laennya blum dateng, mungkin sebentar lagi.”

Kubaca koran yg tergeletak di kursi, sudah jadi kebiasaanku untuk membacanya.

“Pagi Pak !” sapaku pada Pak Dimas yg baru datang. “Ada jadwal kemana hari ini?” tanyanya. “Belum tahu Pak, pengennya sih stand by aja.”

Aku mengambil Hp yg ada di kantong, kubuka satu aplikasi. Kulihat dia online pagi ini. Kusapa dia, sambil mengakrabkan hubungan kami. Masih biasa seperti layaknya seorang teman. Belum ada pikiran untuk menjadikannya seorang yg spesial.

Hampir tiap hari kubuka aplikasi itu. Saat jam-jam kosong di kantor, kampus, maupun di rumah. Aku belum bisa melupakan Putri, ataupun Tiara, yg pernah singgah di hariku. Keduanya, sosok yg ingin aku jaga, meski, takkan ada lagi perasaan itu padanya.

Lelah sekali hari ini, kubaringkan tubuhku di kamar, kuambil handphone, dan aku mulai membuka aplikasi itu. Tampaknya dia online hari ini. Sejak pertemuan itu, hubungan kita makin dekat, ditambah keinginanku yg menjadikannya seorang adik. Orang yg tak pernah aku dapatkan dari orang tuaku. Iya, aku terlahir seorang diri, sebagai anak tunggal.

Malam itu kusampaikan padanya, kalo aku ingin mengenalnya lebih jauh. Bukan sebagai seorang adik tentunya. Lewat untaian kata, Dia pun setuju. Tampaknya ia juga merasa nyaman dengan hubungan ini.

Hari terus berganti, dan hubungan ini terasa makin spesial untukku. Aku merasa nyaman padanya. Namun, tak kutahu bagaimana ia padaku. Aku mengenalnya minggu lalu, dan hari ini, kita telah jadi sebuah pasangan yg takkan terpikir oleh kami sebelumnya. Puluhan sms, kata-kata, telah menjadi bagian dari kami. Pertemuan yg terjadi tiap minggu terasa begitu istimewa untukku. Tapi mungkin tidak untuknya. Ada sebuah raut yg berbeda setelah beberapa kali bertemu. “Ada apa sih, kok aneh gitu, kamu ga pa pa kan !” tanyaku. “Iya, ga pa pa, kita mau kemana kak? Aku Cuma punya waktu ampe jam1, ada janji ma temen les.” jawabnya sambil berjalan ke tempat kita pertaman ketemu. “Kamu temenin aku ya, ada kegiatan di lab, bis itu, kita jalan, kayak biasanya.” Dia pun mengangguk, dan kita mulai berjalan menuju kampusku yg sepi pagi itu.

Waktu berjalan begitu cepat, hingga akhir nya kami berpisah saat jam menunjuk waktu setengah dua. Akupun pulang, masih lelah rasanya, setelah bekerja kemarin. Aku pun berbaring, tidur.

Tak terasa malam sudah menjelang. Aku teringat untuk datang ke sekolahku dulu. Anak-anak berkumpul di sana. Reunian malam ini. Bodohnya aku, untuk lupa memberitahunya.

Aku lupa jika sekarang ada satu teman spesaialku. Meski aku tak bisa mengajaknya untuk keluar malam. Tak apalah. Yg penting hatiku ada untuknya. Aku akan menjaganya sampai saat yg bisa. Kamipun berbincang banyak hal malam itu. Sudah hampir 1 tahun tak bertemu setalh kita lulus 2 tahun yg lalu. Sekolah yg membawa kenangan buruk tetapi juga terindah untukku.

Aku teringat padanya dan segera aku ketikkan kata untuknya. Tak terkirim. Mungkin jaringan sibuk malam ini. Malam minggu, waktu dimana muda-mudi berkumpul untuk memadu kasih. Sudah hampir setengah jam, dan belum terkirim juga. Aku tak bisa berpikir banyak waktu itu. Segera kuambil Hpku yg satu lagi. Kutuliskan kata dan aku kirim padanya. Sama. Tak terkirim juga. Aku pun mulai membiarkan sms itu, dan mulai menyantap makanan yg sudah di pesan temanku. Tak ada hentinya tawa, dan melihat sekeliling. Rame sekali warung Mas Boy waktu itu. Terlihat pasangan yg masuk ke dalam warung tenda itu. Andai aku bisa mengajaknya. Pasti malam ini akan lebih indah, gumamku. Sepuluh lewat lima belas, kami bergegas pulang. Namun, tampaknya pertemuan itu belum cukup memuaskan kami. Sambil duduk-duduk di depan gedung Bank, kami pun mulai mengobrol lagi. Satu teman, pulang, Lelah katanya. Masih kutahan rasa kantukku karena aku masih kangen pada mereka.

23.00. Waktu yg membuat aku terus mengingat gadis itu. Gadis yg telah membuatku mengerti bahwa hidup lebih indah dengan cinta. Banyak komentar dari teman yg menuduhku tidak konsisten. Aku memang ngga berencana untuk punya pacar lagi. Putri telah membuatku benar-benar sakit karena kebohongan yg telah dilakukannya.

Dia berbeda, tak seperti orang2 yg pernah aku knal sebelumnya. Orang yang mengingatkanku akan satu hal yg prinsipil menurutku. Iman.

Satu pilihan yg membuat aku memilihnya. Aku bisa saja memilih Ika, atau yg laen. Tapi mereka tidak memiliki itu.

Pagi itu, aku terbangun. Segera kuucapkan sms padanya. Tampaknya ia belum bangun, karna sms itu tak kunjung dibalasnya. Aku menunggunya, berharap aku bisa bercerita tentang malam itu. Aku benar-benar tak mengerti. Hari itu terasa penat untukku. Hubungan kami berakhir dan Mengapa harus Tiwi yg jadi orang itu. Aku tak bisa menahan pikiranku. Sesalku, karna kemarin terkahir kali aku bertemu dengannya. Semua terasa dingin, tak seperti biasanya.Mungkin karna kesombonganku. Aku tak bisa. Aku menjaga perasaan itu, tapi aku kembali jatuh. Jatuh pada jurang yg sama. Kalau saja bukan dia. Mungkin takkan seperti ini. Ia membuatku sadar akan Iman. Aku rapuh. Aku tak bisa banyak berkata. Hanya diam memandang fotonya yg kusimpan kemarin.

Aku lelah. Mungkin ini adalah jalanku. Aku tak bisa lagi melihat senyumnya. Senyum seorang gadis yg sudah lama tak kulihat. Aku bahagia dengannya. Meski sekarang aku tahu, dia tak pernah bahagia denganku. Apakah ini cinta, aku tak tahu. Semua terasa begitu cepat. Hanya dia yg tahu jawaban dari semua ini.

“Dek, bangun, katanya mau puasa, ayo bangun?” kata ibuku. Aku terbangun dari tidur panjangku. Kubuka mata, dan kulihat jam di HP ku. 3.20. Aku bangun. Kubuka lagi Hpku, untuk melihat fotonya. Sudah tak ada. Kucari-cari di semua folder dalam HP ku tapi tak kutemukan itu. Aku baru teringat. Kemarin aku lelah sekali, dan langsung tertidur. Aku baru sadar bahwa Tiwi adalah malaikat yg telah mengingatkan ku. Kerapuhan yg ada pada diriku, takkan ada lagi. Aku Cuma bisa tersenyum. Ya Allah, terima kasih, Engkau telah membimbingKu. Kini akau akan bersamaMu. Meski bukan dengannya. Mengapa harus Tiwi? Karna ia yg telah membuatku sadar akan pentingnya hidupku. Terimakasih ya Allah, meski Tiwi Cuma mimpi dalam malam ini. Tapi ia terasa nyata untukku.

Pagi ini aku kembali berangkat menuju tempat kerjaku. Kulayangkan salam bahagia. “Thanks Tiwi. Moga mimpi itu bisa jadi kenyataan untukku.”

Nama dan peristiwa hanyalah rekaan semata. Hanya bunga tidur dalam melepas lelah

WasSalam

Leave a comment »

Maap jarang online

berhubung adminnya lagi sibuk ngurus macem macem, jadi untuk sementara blum bisa nge post dulu.

Terima kasih buat yg udah berkunjung dan memberi komentar pada blog ini.

Salam

admin

Leave a comment »

Selamat Jalan “Pak Harto”

Pak Harto in memorian Selamat jalan Pak Harto..

27 Januari 2008 menjadi hari yg mungkin tak akan dilupakan oleh bangsa ini. Salah seorang mantan pemimpin bangsa ini telah berpulang menghadap kehadiran-Nya. Pak Harto begitu dikenang oleh semua orang. Terlepas atas semua perbuatan, sikap, maupun hal-hal yg telah dilakukan beliau semasa hidupnya, penghargaan yg besar layak diberikan oleh Bapak yg satu ini. “Bapak Pembangunan” Itulah yg dapat kita kenang dari beliau, semasa hidupnya telah banyak perubahan yg terjadi pada bangsa ini. Indonesia menjadi bangsa yg disegani di kala kepemimpinanya.

 Bangsa ini berduka..

Hingga saat terakhirnya, beliau tetap berjuang menghadapi sakit yg di deritanya. Dengan segenap upaya, Namun tetap Allah yg akan menentukan semuanya. Hari ini, bangsa kita berduka, telah disampaikan bahwa Bangsa ini berkabung hingga 7 hari ke depan. Mungkin belum ada yg dapat menggantikan kepemimpinan beliau hingga bangsa ini menjadi Bangsa yg lebih baik dari sebelumnya.

Reformasi – Perubahan

Benar adanya jika kita butuh perubahan, tetapi ingatkah kita jika perubahan itu tidak akan bisa terjadi  secara spontan.. Akan butuh waktu dan kesalahan itulah yg mungkin terjadi pada bangsa ini.  Jika kita bersabar, setidaknya akan ada perubahan yg lebih baik dari ini. Wallahualam.

Ya.. kita hanya bisa belajar dari pengalaman yg pernah terjadi. Apa yg dapat kita peroleh selama ini, tak lepas dari jasa-jasa Bp. Soeharto yg telah memimpin bangsa ini selama 32 tahun. Semangat yg dimiliki beliau harus kita jadikan acuan untuk bergerak. Jangan pernah kau ingat kesalahan apa yg telah orang perbuat kepadamu, namun jadikan itu sebagai tolak ukur agar kita menjadi lebih baik. Seberapa besar kesalahan itu, pastilah ada secercah kebaikan yg akan menghapus kesalahan itu.

Selamat jalan Pak..

Semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah swt. Amin

 

 

Comments (1) »