Ternyata ngga harus “Smart”

Yuhu…smart..smart..n smart.. Sapa sih yg ga pengan jadi smart. Bisa dikenal banyak orang, dapet segalanya, dan…wow tentu saja cepet dapet kerja. Eits… tunggu, apa itu bener ???

Ok…kita bahas yg satu ini. Masih inget apa yg dipesenin orang tua kita pas kita kecil dulu. “Belajar yg rajin ya Nak, biar pinter” Nah loe..ternyata dari kecil kita di doktrin untuk jadi pinter. Tapi apakah itu berhasil?? Hmm, maap buat yg otaknya pas-pasan, mesti sering kena marah ma Bokap atau nyokap. Padahal bukan seutuhnya salah kita kenapa kita ngga smart. Jangan pernah menyesal karna udah dilahirin seperti ini. Tuhan selalu punya rahasia buat kita. Amin. Ok.. Kembali soal smart, kita selalu dituntut untuk jadi orang yg berbeda. Klo emang ga smart kenapa sih karus dipaksain, yg ada cuma nyesek aja ntar. Trus apa dong yg bisa kita lakuin klo kita ngga smart ???

Dari kebanyakan orang yg berhasil di dunia ini, ternyata mereka ngga smart2 banget. Cuma beberapa persen aja yg bener2 smart. Lalu yg membuat mereka berhasil adalah usaha dan ketelatenan. Meski bukan orang yg smart, tetapi kita punya daya imajinasi yg berbeda dari yg laen. Pernah kepikiran ngga, kalo tiap kali ada ujian mengarang di sekolah, ngga pernah ada karangan yg sama. Nah, itu bukti kalo tiap orang punya daya imajinasi masing-masing. Imajinasi inilah yg akan membuat seseorang jadi kreatif dan berguna bagi orang lain. Kreatifitas muncul murni dari pikiran seseorang. Mungkin saya bukan seorang dokter, tapi saya bisa pastikan kalo kreatifitas itu tidak bisa dipaksaan. Seperti halnya cinta yg tumbuh dari hati.

Smart itu memang bawaan dari lahir. Orang dengan IQ pas-pasan atau bahkan kurang, tidak akan pernah bisa mengalahkan orang yg jenius dalam hal pemikiran yg mengandung logika (sains). Namun, untuk hal yg menyangkut kreatifitas, orang dengan IQ pas-pasan bisa jauh lebih berkembang. Mengapa demikian? Wah untuk pertanyaan ini, hanya Tuhan yg tahu. Yg jelas disini, manusia diciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
Jadi jangan khawatir kalo ternyata kita bukan orang yg smart, dan lahir dengan otak yg pas-pasan.

Lalu gimana dong biar kita bisa bersaing…
Usaha dan doa. Mungkin cuma itu yg terpikir oleh saya saat ini. Smart itu cuma manfaatin otak kiri untuk berpikir, jadi kita ngga perlu takut. Kita kan masih punya banyak anggota yg bisa digunakan untuk bersaing. Buat kamu yg ngerasa ngga smart, coba deh kamu beralih ke hal yg laen. Misalnya olahraga, menulis, gambar, maen musik, atau mungkin menyayi. berusaha sebaik-baiknya dan terus fokuskan pada hal yg km suka itu. Jangan takut untuk dicap bodoh !! Kita masih punya banyak kelebihan yg belum dimanfaatin secara maksimal. Fokus pada satu hal. terus berusaha, dan jangan lupa untuk berdoa. Usaha tanpa doa adalah sia-sia. Kekuatan sebuah doa itu luar biasa, kalo kita mau mengukurnya. jadi jangan pernah meremehkan sebuah doa.

Saya cuma mau menegaskan disini, kalo kita perlu berlatih, berlatih dan berlatih. Belajar juga merupakan satu bentuk dari latihan itu sendiri. bagaimana kita mau bersaing, kalo kita sendiri malas. Udah ngga smart, malas pula, maka celakalah dirimu. Malulah pada dirimu sendiri kalo saat ini kamu cuma bisa jadi sampah masyarakat, maksudnya kita ngga berguna buat orang lain. Mulailah dari sekarang untuk belajar, dan memahami potensi yg ada diri kamu..

Terus berusaha yach dan jangan lupa buat berdoa. Ok..

Semoga bermanfaat.

Wassalam

Comments (2) »

Tips merawat komputer kamu

Uhm..Ketemu lagi di edisi tips and trik. Kali ini kita akan ngebahas, gimana sih, ngerawat komputer yg baik dan benar, jd bisa awet tuh komputer. Adapun yg perlu disiapkan disini adalah, komputer dan seperangkatnya, lap, beberapa CD/DVD kosong, kipas angin boleh juga,kuas cat trus, yg penting adalah, sandal jepit, biar ga kesetrum. (he..he..)

Read the rest of this entry »

Comments (3) »

PC PLUS- edisi 310

Wuah, suatu kebanggaan buat saya, ternyata ada artkel di blog ini yg masuk ke majalah, Ya, ya, beberapa minggu lalu ada yg memberi tawaran untuk memasukkan artikel berjudul “Komputer Mati Ada Apa Dengannya” ke dalam tabloid PC PLus. Alhamdulilah sekarang majalah tersebut sudah diterbitkan dan artikelnya dicantumkan di dalamnya.

Buat mba Keshie Hernitaningtyas saya ucapkan terima kasih atas kesediaanya memasukkan artikel dengan judul “Komputer Mati Ada Apa Dengannya” ke dalam tabloid PC Plus.

Untuk para pengunjung, saya ucapkan terima kasih atas kesediaanya membaca artikel2 dalam blog saya ini.

Akhir kata semoga bermanfaat bagi semua pihak

Wassalam

Leave a comment »

Mengapa harus Tiwi?

Siang itu, matahari kembali menyegat tubuhku. Aku berlari dari kejaran mobil, yg terus mendekati laju motorku. Semakin kupercepat, dan akhirnya sampai juga di tempat kerjaku. “Sudah pulang, Mas, biar saya saja yang buka”, sapa Bibi dari belakang pagar.

“Makasih Bi !”, jawabku. Segera kuparkir motor kesayanganku itu. Kuambil secarik kertas dari dalam tasku, lalu kuserahkan pada Dian, Customers serviceku. “Ini mba, ada beberapa yg harus dibeli.” Seraya kuserahkan job report yg kupegang.

Kembali kuberjalan mengambil segelas air untuk menyegarkan tenggorokan. Kubuka laptop dan mulai kumainkan tombol-tombol di dalamnya. Teringatku pada tugas yg diberikan Pak Thomas 1 minggu lalu.

“Ayo pulang, ngga kuliah ya?” sapa Pak Dimas. Kulihat jam sudah menunjuk angka 5. Tak terasa waktu begitu cepat. Akupun tersenyum dan mulai berkemas. Kutinggalakan kantor, dan bergegas menuju kampusku yg ada di pusat kota. Kupacu laju motorku secepat mungkin agar bisa on time hari ini. Sudah hal kebiasaanku menjadi mahasiswa yg suka telat di jam pertama. Resiko pekerjaan pikirku.

Begitu adanya, kerja dan kuliah tiap hari membuatku lebih tau bahwa hidup memang butuh perjuangan. Kadang terpikir untuk berpacaran seperti umumnya seorang mahasiswa. Tapi sudahlah, takkan ada waktu untukku.

“Assalamu ‘alaikum !” sapaku memasuki rumah. Di sambut senyum dari bapak dan ibuku. Akupun segera menuju kamar, mengganti pakaian yg sudahku pakai seharian.

Aku terdiam sejenak, sebelum kusantap makan malamku. Aku lupa kalo ada sms yg belum aku balas. Aku beranjak mengambil HP yg baru kubeli minggu lalu. Kutulis sms singkat lalu kembali ke meja untuk menghabiskan makananku. Terasa lelah dan kubaringkan tubuh ini. Aku ingin hari berganti lebih cepat adanya hingga weekend datang. Aku terlelap dalam tidurku berharap esok akan datang.

“Pak aku duluan ya, ada janji nih, skalian mo lihat dies di kampus.”ucapku. “Hati-hati, jangan ngebut!” pesan Pak Sani. Hari ini mungkin akan jadi hari yg indah. Ada janji bertemu cewek yg baru aku knal. Kuajak ia untuk melihat-lihat kampusku, sembari menonton anak-anak band yg mengalunkan musik.

“Ting tong”. Kukeluarkan Hpku dan kubaca 1 sms yg masuk sore itu. ‘Aku sudah sampai nih, kamu dimana?’ Kubalas smsku, lalu aku menuju parkiran untuk menjemputnya.

“Tiwi ya, maap lama nunggu.” Sapaku padanya. “Iya ga pa pa kok, aku juga baru dateng, oh ya katanya ada pensi, dimana?” tanyanya lembut. “Ayo ikut aku”. Kuajak ia berkeliling, sambil mengobrol. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Namun terasa begitu dekat seperti layaknya teman yg sudah lama tak bertemu.

Sore itu telah jadi malam yg membuat aku ingin mengulanginya. Ntah mengapa, sejak perkenalan itu, aku ingin lebih mengenalnya. Seorang gadis kecil yg baru beranjak dewasa dalam penantian menuju kelulusan dari bangku SMU. Mulai kuberanikan diri untuk menyapanya melalui tulisan dari Hpku. Dan aku membuat janji untuk bertemu lagi esok. Ia ingin aku berkenalan dengan sahabatnya. Sebuah hubungan sederhana, dan dia menganggapku sebagai seorang kakak.

Ia terlambat datang. Masih kudengar suaranya dari gedung berlantai 9 itu. Aku menghabiskan sepiring mie yg sudah kupesan. Sambil menunggunya, aku bercerita tentang hubunganku dengan Ika pada Amir, sahabatku. “Mir, aku tak pernah berharap, kamu menginginkan aku tuk jadian dengannya. Aku masih mengingat kata-katamu waktu itu. Aku hanya mengangapnya seorang teman. Lagipula kamu tahu kan, dia lebih tua dari aku. Aku ingin sendiri. Kerja sambil kuliah, udah membuatku pusing, apalagi jika ada cewek di sampingku. Aku tak bisa bayangkan itu.” Kataku untuk membuka pembicaraan. Dia hanya mengangguk, tangannya yg memegang sendok, diturunkannya kembali. “Iya, aku tahu, aku hanya mengira kamu mendekatinya. Sepertinya dia juga menyukaimu.”

Tak terasa kita mengobrol cukup lama, sampai akhirnya aku melihat bayangan gadis yg aku knal. Dia telah pergi, mungkin tak melihatku. Aku ingin memanggilnya, tapi sudahlah, tampaknya ia masih sibuk dengan kegiatannya itu. Aku pun bergegas pulang. Sedikit kekecewaan padaku pada janji itu. Harusnya aku tak membuat janji hari ini, sesalku.

Aku kembali menjalani kehidupanku. Bulan depan sudah ujian akhir, dan aku belum menyiapkannya. Kurapikan tas kerjaku dan segera menuju kantor yg tak cukup jauh dari rumahku. “Eh, senyum-senyum aja ni, lagi hepy ya.” Sambut Pak Pur, security di tempatku. “He..he, iya, ga tau nih jadi hepy banget. Yg laen blum dateng Pak?” tanyaku. “Mba Dian tuh di depan, yg laennya blum dateng, mungkin sebentar lagi.”

Kubaca koran yg tergeletak di kursi, sudah jadi kebiasaanku untuk membacanya.

“Pagi Pak !” sapaku pada Pak Dimas yg baru datang. “Ada jadwal kemana hari ini?” tanyanya. “Belum tahu Pak, pengennya sih stand by aja.”

Aku mengambil Hp yg ada di kantong, kubuka satu aplikasi. Kulihat dia online pagi ini. Kusapa dia, sambil mengakrabkan hubungan kami. Masih biasa seperti layaknya seorang teman. Belum ada pikiran untuk menjadikannya seorang yg spesial.

Hampir tiap hari kubuka aplikasi itu. Saat jam-jam kosong di kantor, kampus, maupun di rumah. Aku belum bisa melupakan Putri, ataupun Tiara, yg pernah singgah di hariku. Keduanya, sosok yg ingin aku jaga, meski, takkan ada lagi perasaan itu padanya.

Lelah sekali hari ini, kubaringkan tubuhku di kamar, kuambil handphone, dan aku mulai membuka aplikasi itu. Tampaknya dia online hari ini. Sejak pertemuan itu, hubungan kita makin dekat, ditambah keinginanku yg menjadikannya seorang adik. Orang yg tak pernah aku dapatkan dari orang tuaku. Iya, aku terlahir seorang diri, sebagai anak tunggal.

Malam itu kusampaikan padanya, kalo aku ingin mengenalnya lebih jauh. Bukan sebagai seorang adik tentunya. Lewat untaian kata, Dia pun setuju. Tampaknya ia juga merasa nyaman dengan hubungan ini.

Hari terus berganti, dan hubungan ini terasa makin spesial untukku. Aku merasa nyaman padanya. Namun, tak kutahu bagaimana ia padaku. Aku mengenalnya minggu lalu, dan hari ini, kita telah jadi sebuah pasangan yg takkan terpikir oleh kami sebelumnya. Puluhan sms, kata-kata, telah menjadi bagian dari kami. Pertemuan yg terjadi tiap minggu terasa begitu istimewa untukku. Tapi mungkin tidak untuknya. Ada sebuah raut yg berbeda setelah beberapa kali bertemu. “Ada apa sih, kok aneh gitu, kamu ga pa pa kan !” tanyaku. “Iya, ga pa pa, kita mau kemana kak? Aku Cuma punya waktu ampe jam1, ada janji ma temen les.” jawabnya sambil berjalan ke tempat kita pertaman ketemu. “Kamu temenin aku ya, ada kegiatan di lab, bis itu, kita jalan, kayak biasanya.” Dia pun mengangguk, dan kita mulai berjalan menuju kampusku yg sepi pagi itu.

Waktu berjalan begitu cepat, hingga akhir nya kami berpisah saat jam menunjuk waktu setengah dua. Akupun pulang, masih lelah rasanya, setelah bekerja kemarin. Aku pun berbaring, tidur.

Tak terasa malam sudah menjelang. Aku teringat untuk datang ke sekolahku dulu. Anak-anak berkumpul di sana. Reunian malam ini. Bodohnya aku, untuk lupa memberitahunya.

Aku lupa jika sekarang ada satu teman spesaialku. Meski aku tak bisa mengajaknya untuk keluar malam. Tak apalah. Yg penting hatiku ada untuknya. Aku akan menjaganya sampai saat yg bisa. Kamipun berbincang banyak hal malam itu. Sudah hampir 1 tahun tak bertemu setalh kita lulus 2 tahun yg lalu. Sekolah yg membawa kenangan buruk tetapi juga terindah untukku.

Aku teringat padanya dan segera aku ketikkan kata untuknya. Tak terkirim. Mungkin jaringan sibuk malam ini. Malam minggu, waktu dimana muda-mudi berkumpul untuk memadu kasih. Sudah hampir setengah jam, dan belum terkirim juga. Aku tak bisa berpikir banyak waktu itu. Segera kuambil Hpku yg satu lagi. Kutuliskan kata dan aku kirim padanya. Sama. Tak terkirim juga. Aku pun mulai membiarkan sms itu, dan mulai menyantap makanan yg sudah di pesan temanku. Tak ada hentinya tawa, dan melihat sekeliling. Rame sekali warung Mas Boy waktu itu. Terlihat pasangan yg masuk ke dalam warung tenda itu. Andai aku bisa mengajaknya. Pasti malam ini akan lebih indah, gumamku. Sepuluh lewat lima belas, kami bergegas pulang. Namun, tampaknya pertemuan itu belum cukup memuaskan kami. Sambil duduk-duduk di depan gedung Bank, kami pun mulai mengobrol lagi. Satu teman, pulang, Lelah katanya. Masih kutahan rasa kantukku karena aku masih kangen pada mereka.

23.00. Waktu yg membuat aku terus mengingat gadis itu. Gadis yg telah membuatku mengerti bahwa hidup lebih indah dengan cinta. Banyak komentar dari teman yg menuduhku tidak konsisten. Aku memang ngga berencana untuk punya pacar lagi. Putri telah membuatku benar-benar sakit karena kebohongan yg telah dilakukannya.

Dia berbeda, tak seperti orang2 yg pernah aku knal sebelumnya. Orang yang mengingatkanku akan satu hal yg prinsipil menurutku. Iman.

Satu pilihan yg membuat aku memilihnya. Aku bisa saja memilih Ika, atau yg laen. Tapi mereka tidak memiliki itu.

Pagi itu, aku terbangun. Segera kuucapkan sms padanya. Tampaknya ia belum bangun, karna sms itu tak kunjung dibalasnya. Aku menunggunya, berharap aku bisa bercerita tentang malam itu. Aku benar-benar tak mengerti. Hari itu terasa penat untukku. Hubungan kami berakhir dan Mengapa harus Tiwi yg jadi orang itu. Aku tak bisa menahan pikiranku. Sesalku, karna kemarin terkahir kali aku bertemu dengannya. Semua terasa dingin, tak seperti biasanya.Mungkin karna kesombonganku. Aku tak bisa. Aku menjaga perasaan itu, tapi aku kembali jatuh. Jatuh pada jurang yg sama. Kalau saja bukan dia. Mungkin takkan seperti ini. Ia membuatku sadar akan Iman. Aku rapuh. Aku tak bisa banyak berkata. Hanya diam memandang fotonya yg kusimpan kemarin.

Aku lelah. Mungkin ini adalah jalanku. Aku tak bisa lagi melihat senyumnya. Senyum seorang gadis yg sudah lama tak kulihat. Aku bahagia dengannya. Meski sekarang aku tahu, dia tak pernah bahagia denganku. Apakah ini cinta, aku tak tahu. Semua terasa begitu cepat. Hanya dia yg tahu jawaban dari semua ini.

“Dek, bangun, katanya mau puasa, ayo bangun?” kata ibuku. Aku terbangun dari tidur panjangku. Kubuka mata, dan kulihat jam di HP ku. 3.20. Aku bangun. Kubuka lagi Hpku, untuk melihat fotonya. Sudah tak ada. Kucari-cari di semua folder dalam HP ku tapi tak kutemukan itu. Aku baru teringat. Kemarin aku lelah sekali, dan langsung tertidur. Aku baru sadar bahwa Tiwi adalah malaikat yg telah mengingatkan ku. Kerapuhan yg ada pada diriku, takkan ada lagi. Aku Cuma bisa tersenyum. Ya Allah, terima kasih, Engkau telah membimbingKu. Kini akau akan bersamaMu. Meski bukan dengannya. Mengapa harus Tiwi? Karna ia yg telah membuatku sadar akan pentingnya hidupku. Terimakasih ya Allah, meski Tiwi Cuma mimpi dalam malam ini. Tapi ia terasa nyata untukku.

Pagi ini aku kembali berangkat menuju tempat kerjaku. Kulayangkan salam bahagia. “Thanks Tiwi. Moga mimpi itu bisa jadi kenyataan untukku.”

Nama dan peristiwa hanyalah rekaan semata. Hanya bunga tidur dalam melepas lelah

WasSalam

Leave a comment »

KOMPUTER MATI, ADA APA DENGANNYA?

Eits…jangan panik jika tiba2 saja komputer anda tidak mau dinyalakan. Ikuti langkah-langkah berikut, dan anda akan tahu apa yg telah terjadi pada komputer anda.

Read the rest of this entry »

Comments (17) »